Travelling 

Eksplorasi Destinasi Historis di Jambi

Jambi juga punya histori. Deretan tempat ini menyimpan eksostisme klasik dari masa lalu!

Untuk kawasan Pulau Sumatera, Jambi sepertinya masih belum terlalu populer untuk dijadikan sebagai destinasi wisata. Paling tidak—sepengamatan saya—kebanyakan para pencinta alam yang bermaksud untuk menikmati keindahan Gunung Kerinci dan Danau Gunung Tujuh yang memang menawan.

Sayang sekali sebenarnya, karena ada banyak potensi wisata lain yang bisa dikunjungi di Jambi. Dua minggu yang lalu, saya akhirnya berkesempatan untuk pergi ke sana dengan salah seorang kawan. Seperti biasa, tujuan utama saya adalah mengunjungi tempat-tempat yang bersejarah (entah mengapa saya selalu tertarik dengan hal-hal yang berkaitan dengan masa lalu. Mungkin ini alasan saya susah move on :p).

Selama tiga hari, kami memang tidak terus menerus eksplorasi wisata sejarah di Jambi. Namun jika ditotal, dalam waktu kurang dari 72 jam, kami berhasil mengunjungi empat destinasi berikut ini.

Masjid Seribu Tiang

Mesjid Seribu Tiang Jambi

Source : triptrus

Kami memilih penerbangan murah ke Jambi menggunakan Citilink di waktu yang cukup pas. Dengan perjalanan sekitar satu setengah jam, kami sampai di Bandara Sultan Thaha Syaifuddin sekitar pukul setengah satu. Sesuai itinerary, kami pun langsung menuju Masjid Seribu Tiang untuk sekaligus melakukan salat duhur.

Bukan tanpa alasan kami memilih tempat ini. Masjid yang bernama resmi Masjid Agung Al-Falah ini konon didirikan di atas tanah yang menjadi saksi perjuangan Raja Thaha Syaifuddin melawan pasukan Belanda di sekitar tahun 1880-an. Tempat peribadatan ini pun sangat luas dan mampu menampung hingga 10 ribu jemaah.

Candi Muaro Jambi

Cand Muara Jambi

Source : bello

Setelah beristirahat sejenak di masjid, kami melanjutkan perjalanan ke Candi Muaro Jambi. Seperti Masjid Seribu Tiang, candi ini juga berada di bantaran sungai terpanjang di Andalas, Sungai Batanghari. Perjalanan menuju situs warisan budaya ini pun cukup menyenangkan dengan pemandangan gugusan rumah panggung tradisional khas Melayu Jambi.

Bebatuan candi yang kuno didirikan di atas lahan hijau yang cukup luas. Bahkan, luasnya mencapai delapan kali Candi Borobudur yang termasyhur dan menjadikannya sebagai candi peninggalan Hindu-Buddha terluas di ASEAN. Di kompleks ini juga terdapat Kolam Telago Rajo, wadah penampungan air pada saat itu.

Istana Abdurrahman Thaha Saifuddin

Istana Abdurrahman Thaha Saifuddin
Source : situsbudaya

Tidak ada yang banyak tahu siapa sosok Abdurrahman Thaha Saifuddin. Padahal, namanya sangat harum hingga ke Turki. Bahkan, Sultan Taha dihadiahi medali bersegi tujuh oleh pemimpin negeri tersebut.

Sultan Taha merupakan raja terakhir dari Kerajaan Jambi sekaligus pahlawan nasional. Untuk mengenang jasanya, dibuat sebuah patung dirinya yang berada di depan Kantor Pemerintah Daerah Provinsi Jambi. Sementara itu, makam serta istana beliau yang begitu kental dengan arsitektur klasik dibuka untuk umum.

Sebagai informasi, lokasi istana ini cukup jauh—bahkan sebenarnya masuk ke dalam Kabupaten Tebo. Karena keterbatasan waktu, khusus untuk satu hari ini kami hanya berkunjung ke sini saja.

Kota Tua Batanghari

Kota Tua Batanghari Jambi

Source : GoGreenBella

Hari terakhir, destinasi sejarah kami adalah Kota Tua Batanghari. Selayaknya kota-kota tua lainnya di Indonesia, kawasan ini pun dipenuhi dengan bangunan-bangunan kuno khas kolonial Belanda. Namun karena gerusan waktu, beberapa sudut kota ini pun tidak lagi orisinal karena adanya renovasi.

Wilayah ini menjadi saksi bisu masa-masa kelam Indonesia di bawah jajahan Belanda hingga masa kemerdekaan. Kota tua Batanghari ini pula yang kemudian menjadi cikal bakal lahirnya Kota Trembesi.

Sebenarnya masih ada banyak destinasi wisata sejarah di Jambi lainnya. Namun lagi-lagi, karena keterbatasan waktu, kami harus memuaskan diri dengan empat tempat di atas.

Yah, semoga ada banyak promo tiket pesawat ke Jambi lainnya, ya! 🙂

Related posts

Leave a Comment